Satelit9.net Jakarta - Istana Negara dan Balai Kota DKI terendam banjir akibat tujuh dari sembilan pompa di Waduk Pluit mati selama sekitar dua jam. Akibatnya, tinggi muka air di waduk tersebut mencapai 125 centimeter (cm). Saat ini, ketujuh pompa tersebut sudah berfungsi kembali untuk membuang air ke laut.
Kepala Bidang Informatika dan Pengendalian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Bambang Surya Putra mengatakan ketinggian air muka di Waduk Pluit terus meningkat karena tujuh pompa mati sehingga tidak bisa membuang air ke laut.
“Kami mendapatkan informasi dari petugas di Waduk Pluit kalau pompanya mati selama dua jam. Sehingga airnya tidak bisa di pompa. Jadi ketinggian muka air sempat berada di posisi 125 cm,” kata Bambang, Senin (9/2).
Matinya tujuh pompa di Waduk Pluit bukan disebabkan karena rusak, melainkan aliran listrik di kawasan waduk padam. Akibatnya, hanya bisa dua pompa yang difungsikan sementara tujuh pompa mati.
“Tetapi saat ini, kesembilan pompa tersebut sudah bisa berfungsi kembali. Secara perlahan ketinggian air di Waduk Pluit sudah surut, dari 125 cm menjadi 100 cm sekarang,” ujarnya.
Pada tahun 2013, ungkapnya, ketinggian muka air di Waduk Pluit pernah mencapai 250 cm. dengan ketinggian muka air tersebut, air melimpas membanjir pemukiman warga di utara Jakarta.
“Sekarang kan hanya 125 cm, makanya belum melimpas ke pemukiman warga. Daerah yang berpotensi tergenang jika ada limpasan yakni Kelurahan Pluit, Kelurahan Angke, Kelurahan Penjaringan dan Pasar Ikan,” tuturnya.
Selain itu, di Kawasan Pantai Mutiara yang merupakan tempat tinggal Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama juga akan terkena dampak.
"Rumah Pak Ahok juga bisa tergenang jika ada limpahan dari waduk Pluit," paparnya.
Komentar